Kita hidup tidak hanya didunia, setelah kematian kita akan
memasuki kehidupan lain yang jauh berbeda dengan kehidpan dunia yakni kehidupan
akhirat. Pada kehidupan akhirat semua amalyang kita kerjakan didunia akan di
evaluasi. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa orang yang cerdas itu orang yang
sering ingat mati dan mau menyiapkan diri untuk kematian. Orang yang cerdas
merupakan orang yang tidak akan menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hal yang ada
manfaatnya. Dan sibuk memikirkan hari esok. Nabi juga mengibaratkan bahwa kita
didunia ini anyalah seorang musyafir yang sedang mampir minum.
Karena waktu yang kita miliki dunia ini terbatas, mau tidak
mau, bias tidak bias kita harus memaksimalkan penggunaanya. Seperti saat kita
menyelam dengan keterbatasan tenaga dan oksigen yang kita punya. Kita harus
menentukan spot-spot mana yang akan kita selami. Kita mesti punya tujuan dan
cepat-cepat menyiapkan pembekalan. Kalua tidak bukan menyelam kita malah
tenggelam.
What do you want to be ?
Kamu mau jadi apa ? apa yang akan kamu berikan pada dunia ?
saat berhadapan dengan Allah nanti, apa yang ingin kamu bangggakan didepannya ?
semua orang sukses di dunia memulai usahanya dengan menentukan tujuan hidup
yang jelas kita punya ketergantungan yang kuat dengan tujuan hidup kita,
cita-cita kita. Kita bias meraih tujuan dan cita-cita yang sudah kita rancang
dengan bias memanfaatkan waktu, tenaga, usaha, semangat dan pikiran sebaik
mungkin. Kenapa setiap orang harus memiliki cita-cita ? karena cita-cita inilah
yang membuat hidup kita lebih banyak memiliki energi dan semangat untuk
menjalani hidup, agar pekerjaan seberat apapun tidak akan terasa berat dan
membuat stress.
Untuk menggapai Cita-cita yang jelas kita mesti bisa
menggunakan waktu dengan bijak. Mana yang lebih dulu dikerjakan, mana yang
harus diakhirkan. Kita harus pandai mengatur rencana dan kegiatan dengan rapi. Kita
bagi pikiran dan tenaga kita dengan tugas atau pekerjaan yang kita dapat. Perencaan
yang matang juga sangat diperlukan untuk mendukung kemungkinan cita-cita kita
tercapai. Selain cita-cita tujuan hidup yang jelas dapat kita gunakan sebagai
sarana untuk membnagun tangga kesuksesan dalam kehidupannya. Hal ini tentu saja
berbeda dengan orang-orang yang tidak punya tujuan hidup, tidak punya rencana,
hanya mengalir seperti air.
Fokus pada kekuatanmu !
Sering kali kita merasa pesimis ketika melihat kondidsi
orang tua yang memiliki ekonomi yang pas-pasan, padahal kita punya kecerdasan
yang luar biasa. Kadang kita juga merasa paling bodoh kalua disusruh mengerjakan
soal-soal matematika, padahal kita punya jwa seni yang sangat hebat. Tak jarang
kita juga merasa malu-malu bergaul dengan teman kerena merasa tidak cantic,
padahal kita punya kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Semua orang memiliki
keunikan dan potensi berharga masing-masing yang diciptakan Allah dalam diri
kita. Fokus pada kelebihan kita sangat penting dalam meraih tujuan hidup. Hanya
perlu belajar mengenali dirimu sendiri. Apa yang menjadi kekuatanmu ? tanyakan
hal itu pada dirimu sendiri, kalua perlu tanyakan kepada orang tua, saudara dan
sehabatmu. Tak ada salnya juga melakukan tes minat bakat kita untuk lebih
mengenal I potensi diri kita. Jika sudah menemukan potensi kita, kebangkan dan
latih terus potensi-potensi itu. Karena potensi yang kita miliki merupakan
kekuatan terbesar yang kita miliki yang daoat kita gunakna sebagai modal kita
untuk bergerak maju.
Di sebuag desa, hidup seorang petani yang masih muda. Suatu hari,
petani tersebut mendengar berita bahwa orang-orang di pulau seberang ramai
mecari intan. Mengapa mereka mencari intan ? bukankah mereka selama ini mereka
dikenal sebagai para nelayan?
Usut punya usust ternyata beberapa minggu sebelumnya, ada
seseorang penduduk di pulau tersebut yang menemukan intan. Karena barang
temuannya itu sangat bernilai, ia menjualnya. Nasibnya pun berbalik 180
derajat, dari sebelumnya hanya nelayan miskin menjadi pengusaha kaya raya.
Mendengar kebar tersebut, petani muda itu tergiur mendapat
keberuntungan yang sama. Setelah berembuk denagn istri dan keluarganya. Ia memutusan
untuk menjual sawahnya kepada tetengganya dan berencana untuk mencari intan. Pada
hari yang ditentukan, ia pergi merantau ke pulau seberang dengan maksud
menjemput impiannya : menemukan intan yang indah dan mahal.
Hari berganti, musim berlalu. Sepuluh tahun sudah petani itu
mencar intan di pulau seberang. Namun intan impiannya belum juga jatuh
ketangan. Satu demi satu penduduk pulau yang sebelumnya sangat bersemangat mencara intan pun menyerah. Tak satu pun di
anatara mereka berhasil mendapatkan apa yang mereka carai. Petani muda itu pun
ikut putusa asa. Suatu sore dipinggir kali tempatnya mecari intan, ia memuuskan
untuk pulang kekampung halamannya.
Saat petani itu tiba di kampung halamannya, ia terkejut
karena tertangganya yang membeli sawah
miliknya dulu sekarang kaya raya. Cerita pun berhembus ke telinganya. Konon tetangganya
itu sangat sabar dan telaten menggarap sawah yang baru dibelinya. Cuaca terik
dan kemarau panjang tak menyurutkan hasratnya untuk mengelola sawah. Hasil panennya
memang tidak seberapa. Keran, selain air, hama juga menjad masalah. Meskiun begitu,
ia tetap bersyukur kepada Allah.
Suatu hari, ditengah rutinitasnya menyiangi reremputan yang
tumbuh di anatara tanaman padinya, ia menginjak benda keras yang tak biasanya
di sawahnya. Ia sudah bertahun-tahun mengelola sawah dan hafal setiap
jengkalnya. Saat tangannya mencoba mengambil benda aneh itu, matanya
terbelalak. Siapa sangka, benda keras yang bercampur lumpur itu ternyata
bongkahan intan!. Ia lantas membawa intan temuannya ke kota untuk di jual. Dalam
sekejap, ia pun menjadi orang kaya.
Ada orang yang mencari intan hingga ke tempat jauh. Tak sedikit
yang mengira benda itu ada dalam genggaman orang lain. Tampa sadar, apa yang
mereka cari ada di dekat mereka, ada dalam diri kita sendiri.







